Rabu, 24 Oktober 2018 | 13:21 WIB

Para Pedagang Asalnya PKL Naik Kelas Jadi Punya Jongko

foto

Administrator

Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan sekitar Alun-alun Cicendo kini naik kelas. Mereka sudah enggan disebut PKL pasca relokasi dari badan jalan ke kios-kios yang terletak di dalam Alun-alun Cicendo, Rabu 10 Januari 2018 lalu.

“Mereka sekarang sudah tidak mau dipanggil PKL, maunya dipanggil pedagang jongko karena masing-masing sudah memiliki kios,” ujar Camat Cicendo Fajar Kurniawan saat dihubungi melalui telepon, Kamis (11/1/2018).

Sebanyak 69 pedagang itu kini telah memiliki kios untuk berjualan. Awalnya, mereka membangun bedeng-bedeng untuk berjualan di sekitar alun-alun. Pada saat pembangunan alun-alun, mereka dipindahkan sementara ke badan jalan agar tidak mengganggu konstruksi.

Setelah pembangunan rampung dan diresmikan pada malam tahun baru 2018 lalu oleh Wali Kota Bandung, M. Ridwan Kamil, para PKL pun kembali boleh berjualan di alun-alun dengan tempat yang sudah ditata dengan jauh lebih baik.

Fajar mengungkapkan, para pedagang menyambut baik segala proses penataan. Mulai dari pembongkaran kios hingga pemindahan ke lokasi baru berjalan sangat lancar dan bisa berlangsung dalam waktu 3 jam saja.

“Ini mungkin penertiban tersingkat yang pernah ada. Dari mulai membongkar sampai memindahkan, sampai bersih tidak ada sampah-sampah,” jelas Fajar.

Kendati begitu, Fajar mengungkapkan, ada proses sebelumnya jauh lebih rumit dari pada itu. Komunikasi yang dilakukan oleh kecamatan kepada para PKL memakan waktu hampir 3 bulan. Mereka bermusyawarah dengan para tokoh masyarakat hingga akhirnya para PKL tersebut bersedia mengikuti program pemerintah.

Oleh karenanya, Fajar sangat mengapresiasi para pedagang. Pasalnya, selama kurang lebih 25 tahun PKL di wilayah tersebut belum pernah ditertibkan. Kini, para pedagang justru dengan sukarela mau pindah dari lokasi berjualan sebelumnya.

“Kata kuncinya dengan kebersamaan dan komunikasi. Jadi kami kompak karena menginginkan hal yang sama. Para pedagang kan asalnya PKL jadi punya jongko,” tuturnya.

Para pedagang yang sebagian besar menjual beragam produk besi dan sparepart kendaraan itu kini menghuni kios-kios milik pemerintah kota. Ke depannya, para pedagang menyewa kios tersebut tiap bulan dengan biaya yang terjangkau. Soal pemeliharaan kios, para pedagang telah bersedia untuk menjaga kebersihan dan kerapian kios mereka masing-masing.

Salah satu pedagang kelontong penerima fasilitas yang disediakan Pemerintah Kota Bandung, Ida (47) mengaku sangat senang. Apalagi kios yang ditempati saat ini lebih tertata baik. Sehingga ia merasa lebih nyaman saat mencari nafkah untuk keluarganya.

"Alhamdulillah Pemkot sudah memberikan tempat yang ditata senyaman ini. Saya dan pedagang yang lain bisa mencari nafkah dengan nyaman. Prosesnya juga terhitung cepat," ujarnya.

Hal itu pun diungkapkan pedagang lain, Firman (21). Baginya, pindah ke kios yang lebih baik merupakan berkah bagi keluarganya. Pedagang dinamo mobil ini berharap Pemerintah Kota Bandung bisa menyediakan lebih banyak tempat seperti ini sehingga lebih banyak pedagang yang merasakan kemudahan dalam berjualan.

"Tempat baru, semoga jadi barokah bagi saya dan keluarga berjualan. Saya diajak orang tua berjualan di sini. Semoga ramai dan memberikan banyak kemudahan bagi saya dan pembeli. Tempat yang nyaman, Insya Allah membuat pembeli merasa nyaman saat mencari barang," tuturnya. ( Pemkot.Bandung/Jabarpost/Dn/yun)