Kamis, 22 Februari 2018 | 11:38 WIB

PUNGLI JUGA TERJADI DI PASAR MAJALAYA, UANG DIPUNGUT, KARCIS “DIKEUKEUWEUK”

foto

Administrator

Suasana di Pasar Baleendah. Foto diambil Selasa 6 Februari 2018 (aep s.a)

SOREANGONLINE- Praktek pungutan liar ternyata tidak hanya di Pasar Baleendah saja, tapi juga terjadi di Pasar Majalaya. Uang dipungut, karcis retribusi pelayanan pasar “dikeukeuweuk” (dipegang erat) oknum pengarcis.

Di pasar ini jumlah pedagang kios lebih dari 800 pedagang sedangkan Pedagang Kaki Lima (PKL)nya nya lebih dari 1.000 pedagang. “Untuk PKL ini dipungut Rp 3.500,-/pedagang, sedangkan untuk pedagang kiosnya dikenakan Rp 6.000,” ujar seorang pedagang yang enggan disebut namanya.

Pengakuan dia, kebanyakan pedagang di Pasar Majalaya tidak diberikan karcis retribusi. “Saya tidak tahu berapa nilai pungutan resmi di karcis retribusi pasar karena selama ini tidak pernah diberi karcis,” ujarnya.

Ada lima pasar yang dikelola oleh Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Bandung yakni Pasar Banjaran, Baleendah, Majalaya, Sayati dan Pasar Margahayu.

Sedangkan tiga pasar lainnya yakni Pasar Rancaekek, Cileunyi dan Cicalengka dikelola oleh PD. Pasar. Rencananya Pasar Baru Majalaya akan dikelola oleh PD. Pasar.

Kebanyakan para pedagang pasar yang dikelola Disperindag Kab. Bandung, uang retribusinya dipungut, namun pengarcisnya (oknum petugas) tidak memberikan bukti pembayaran.

Selama ini tidak diketahui berapa jumlah pedagang pasar di Kab. Bandung dan berapa yang membayar retribusi serta berapa pula yang masuk ke kas daerah.

Sebelumnya, disampaikan seorang pedagang di Pasar Baleendah.“Di sini sudah biasa jadi pedagang tidak mempermasalahkannya. Pedagang kaki lima (PKL) dipungut Rp. 3.500 per lapak, sedangkan untuk pedagang kios pungutannya sampai Rp 5.000,” ujarnya kepada visinews.com, Rabu 7 Februari 2018.

Seraya meminta tidak disebutkan namanya, pedagang tersebut mengatakan, jumlah PKL di Pasar Baleendah diperkirakan lebih dari 2.000 pedagang yang aktif, sementara pedagang kiosnya kurang lebih 1.000 pedagang yang aktif.

“Sebetulnya kita tidak mempermasalahkan retribusinya, tapi yang kita harapkan pelayanan dari pihak pasar terutama dalam menangani sampah. Karena tidak sedikit pedagang di sini meski sudah membayar retribusi namun sampahnya tidak diangkut-angkut. Jadi mereka harus bayar lagi tukang ngangkut sampah sekali angkut Rp 10.000,” ujarnya.

Sedangkan beberapa pedagang kios di Pasar Baleendah mengaku tiap hari dipungut Rp 5.000,-, kadang-kadang diberikan karcis retribusi kadang tidak. Kalau diberikan karcis nilainya yang satu warna pink Rp 3.000,- satu lagi warga kuning Rp 2.000,-.

“Kita sebagai pedagang kebanyakan berharap pelayanannya lebih baik bukan tambah buruk. Kan di karcisnya juga retribusi pelayanan pasar, jadi mana pelayanannya?,” ungkap Ny. Rahmah, bukan nama sebenarnya, pemilik kios kelontong di pasar tersebut.

Publik meminta Bupati Bandung Dadang Naser memerintahkan pihak Inspektorat, turun ke pasar pasar dan melacak aliran dana pungutan itu kemana karena sudah berlangsung bertahun-tahun.

Anggota DPRD Kab. Bandung diharapkan merespon keluhan pedagang dengan mendatangi para pedagang dan memanggil Kadisperindag, Popi Hopipah karena pihak yang harus bertanggungjawab. Berita ini masih membutuhkan konfirmasi. (wir/asa)

 

 

 

 

http://www.soreangonline.com/2018/02/pungli-juga-terjadi-di-pasar-majalaya-uang-dipungut-karcis-dikeukeuweuk/