Senin, 10 Desember 2018 | 03:54 WIB

KPK TETAPKAN BUPATI BANDUNG BARAT ABU BAKAR SEBAGAI TERSANGKA

foto

Administrator

dokument

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)  menetapkan Bupati Bandung Barat Abu Bakar sebagai tersangka karena diduga menerima suap. Ia diduga menerima suap yang jumlahnya hingga ratusan juta rupiah.

“KPK meningkatkan status penanganan perkara dari penyelidikan ke penyidikan dengan menetapkan beberapa orang sebagai tersangka. Sebagai pihak yang diduga menerima suap, ABB, Bupati Bandung Barat,” kata Wakil Ketua KPK, Saut Situmorang, dalam konferensi pers di Gedung KPK, Jakarta, Rabu 11 April 2018.

Ia ditetapkan sebagai tersangka bersama dengan Weti Lembanawati selaku Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bandung Barat serta Adiyoto selaku Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Bandung Barat.

“WLW dan ADY bertugas menagih ke SKPD sesuai janji yang disepakati,” kata Saut.

Abu Bakar diduga menerima suap ratusan juta rupiah untuk kepentingan pencalonan istrinya sebagai Bupati Bandung Barat pada pilkada 2018. Uang itu diduga diterima Abu Bakar melalui dua orang kepercayaannya, yakni Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bandung Barat, Weti Lembanawati, dan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Bandung Barat, Adiyoto.

Sementara pihak yang diduga sebagai pemberi suap adalah Asep Hikayat selaku Kepala Badan Kepegawaian Daerah Kabupaten Bandung Barat.

“KPK meningkatkan status penanganan perkara dari penyelidikan ke penyidikan dengan menetakan beberapa orang sebagai tersangka,” kata Wakil Ketua KPK, Saut Situmorang, dalam konferensi pers di kantornya, Rabu (11/4).

Berikut kronologi operasi tangkap tangan (OTT) KPK di Bandung Barat Selasa (10/4):

Berawal ketika KPK menerima informasi adanya penyerahan dana dari Kepala Sub Bagian Badan Kepegawaian Daerah Ilham ke staf Dinas Perindustrian dan Perdagangan Caca, untuk kepentingan Bupati Bandung Barat Abu Bakar.

Pukul 12.00 WIB

Tim penyidik KPK langsung mengamankan Caca di Gedung B, Kantor Pemerintah Kabupaten Bandung Barat. Uang yang ikut diamankan dalam penangkapan Caca sebesar Rp 35 juta. Uang itu diduga terkait dengan kepentingan Abu Bakar.

Pukul 12.40 WIB

Tim KPK kemudian menuju gedung A di Kantor Pemerintah Kabupaten Bandung Barat untuk menangkap Weti Lembanawati di Kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan.

Pukul 14.30 WIB

Tim penyidik KPK pergi ke rumah Caca di Lembang untuk mengamankan barang bukti uang sebesar Rp 400 juta.

Pukul 13.00 WIB

Secara terpisah, tim penyidik KPK juga menyambangi Hotel Garden Permata di daerah Sukajadi, untuk menangkap Adiyoto dan staf Badan Pembangunan Daerah Kabupaten Bandung Barat bernama Yusef.

KPK lalu membawa keenam tersangka ke Gedung KPK di Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, untuk diperiksa lebih lanjut. Kedatangan enam tersangka itu secara bertahap yakni pukul 18.00 WIB, 19.00 WIB, dan 22.00 WIB.

Pukul 17.00 WIB

Sementara itu, sekitar pukul 17.00 WIB tim KPK juga telah tiba di rumah Abu Bakar. Namun saat itu, Abu Bakar memohon kepada KPK agar tak ikut diamankan. Sebab, ia sedang dalam kondisi sakit dan harus menjalani kemoterapi di RS Borromeus.

Saut mengatakan, KPK menerima permintaan tersebut atas nama kemanusiaan. KPK hanya memeriksa kondisi rumah dan berkoordinasi dengan dokter dari Abu Bakar. Abu Bakar juga diminta membuat surat pernyataan untuk datang ke kantor KPK setelah melakukan kemoterapi.

Namun, Abu Bakar justru menggelar konferensi pers sebanyak dua kali– di rumahnya dan di rumah dinasnya–dan menyatakan tak ikut terjaring dalam OTT KPK.

Saut menjelaskan, malam ini Abu Bakar akan datang ke KPK atas dasar kemauannya sendiri. Hal itu, kata dia, dilakukan setelah menerima surat keterangan dari dokter yang menyatakan bahwa bupati itu saat ini dalam kondisi sehat dan bisa melakukan perjalanan ke luar kota.

“Dalam tangkap tangan yang digelar, KPK mengumpulkan barang bukti sebesar Rp 435 juta,” ucap Saut. (kum) http://www.soreangonline.com/2018/04/kpk-tetapkan-bupati-bandung-barat-abu-bakar-sebagai-tersangka/