Rabu, 21 November 2018 | 07:47 WIB

Perguruan Tinggi di Jabar Harus Menghasilkan SDM Berkualitas

foto

Administrator

Foto: Humas Pemprov Jabar

PALEMBANG, SUMSEL- Pemerintah Provinsi Jawa Barat mendorong agar semua lembaga pendidikan di Jawa Barat, termasuk perguruan tinggi mempunyai dan bisa menghasilkan sumber daya manusia berkualitas. Khususnya Perguruan Tinggi Swasta atau PTS. Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) tidak ingin ada keluhan fasilitas dan kualitas dari para mahasiswa yang berkuliah di PTS.

Aher mengungkapkan hal tersebut saat menjadi pembicara dalam Rapat Pengurus Pusat Pleno (RPPP) ke-4/Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) di The Grand Ballroom Hotel Aryaduta Palembang, Jl. POM IX, Palembang Square, Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, Jumat (9/2/18).

"Oleh karena itu, kita dorong perguruan tinggi swasta pun agar menjadi pilihan yang wajar, pilihan menarik, dan baik yang prestasinya dan kualitasnya tidak kalah dengan sekolah-sekolah negeri," tambah Aher.

"Dalam rangka mendorong supaya swasta punya sarana yang baik, punya kualitas yang memadai, sama atau mirip dengan negeri, ya tentu harus ada perhatian dan bantuan dari Pemerintah," lanjutnya.

Untuk itu, Pemprov Jawa Barat berkomitmen memperhatikan perguruan tinggi swasta yang ada di seluruh Jawa Barat. Anggaran APBD yang dikucurkan sudah mencapai Rp 60-an Miliar. Hal ini diharapkan akan mampu membantu sarana dan prasarana, serta bisa meningkatkan kualitas PTS.

"Ada satu hal yang sedang kami perjuangkan supaya kualitasnya terjamin, maka Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang ada di Jawa Barat itu mengampu Perguruan Tinggi Swasta yang ada di Jawa Barat. Kalau kemudian diampu dengan baik, kualitasnya distandardisasi oleh Perguruan Tinggi Negeri tersebut maka akan bisa kita menentukan di ijazah itu setara dengan Perguruan Tinggi Negeri yang mengampunya," papar Aher.

"Katankanlah Unpad mengampu sejumlah Perguruan Tinggi Swasta. Nanti kalau (mahasiswanya) sudah lulus, ada tulisan bahwa di ijazahnya diakui kualitasnya sesuai atau sama dengan Perguruan Tinggi Negeri, Unpad. Kita ingin seperti itu, meskipun belum tapi ini sebuah pemikiran ya," tambahnya.

"Tentu tidak harus sampai ada tulisan jaminan kualitas di ijazah, tapi manakala kita bisa menghadirkan perhatian dari PTN ke PTS kan sudah sangat bagus, sehingga lebih menjamin perguruan tinggi swasta itu lebih berkualitas seperti PTN," ungkap Aher.

Sementara itu, dalam paparannya yang berjudul "Peran Perguruan Tinggi Dalam Menyiapkan Sumber Daya Manusia Indonesia Berdaya Saing Tinggi Pada Era Revolusi Industri 4.0", Aher menekankan paradigma baru dalam pembangunan bangsa Indonesia ke depan. Aher menjelaskan, bahwa agenda pembangunan nasional harus tertuju pada tiga hal yang menjadi strategi pembangunan nasional, yaitu pengentasan kemiskinan, pengurangan pengangguran, dan daya dukung alam untuk keberlanjutan pembangunan.

Lanjut Aher, ketiga strategi tersebut memiliki tujuan paripurna, yaitu kesejahteraan dan rasa aman masyarakat. Akhirnya, jika agenda pembangunan ini terwujud secara menyeluruh akan mampu menciptakan penghambaan umat manusia kepada Allah SWT.

Hal lain yang menjadi penekanan Aher, di hadapan pelaku PTS dari seluruh Indonesia ini, pembangunan juga harus mampu membangun generasi baru yang memiliki kemampuan kembar, yaitu Imtaq dan Iptek yang seimbang.

Selain itu, menurut Aher, Perkembangan Revolusi Industri Generasi Keempat ini, menghadirkan pola perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tersendiri, diantaranya:

(1) Menemukan pola baru ketika disruptif teknologi (disruptive technology) hadir begitu cepat dan mengancam keberadaan perusahaan-perusahaan incumbent,

(2) Sejarah telah mencatat bahwa revolusi industri telah banyak menelan korban dengan matinya perusahaan-perusahaan raksasa,

(3) Ukuran besar perusahaan tidak menjadi jaminan, namun kelincahan perusahaan menjadi kunci keberhasilan meraih prestasi dengan cepat. Contoh: (a) UBER telah mempengaruhi pemain-pemain besar pada industri transportasi di seluruh dunia; (b) AirBnB (Air bed and breakfast) telah mempengaruhi pemain-pemain utama di industri jasa pariwisata, dan

(4) Munculnya Teknologi Internet 5G merupakan teknologi yang dapat mendukung berkembangnya pasar Internet of Things (IOT) yang berpotensi meningkatkan penjualan perangkat selular hingga miliaran unit di pasar.

Sementara tantangan Indonesia dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0, yaitu:

(1) Semua mesin terhubung melalui sistem internet atau dikenal dengan cyber,

(2) Industri elektronik dan kimia dalam lima tahun mendatang, sebanyak 60-77% dari industri tersebut akan menerapkan sistem digital,

(3) Menyiapkan sumber daya manusia yang terampil, Berhitung Resiko, dan mampu beradaptasi kepada kebutuhan pasar kerja di era Revolusi Industri Generasi Kempat,

(4) Menuntut tingginya karya inovasi berbasis Iptek, perbaikan produk, dan jasa,

(5) Menuntut kreativitas dalam menciptakan jenis dan jumlah lapangan pekerjaan, serta

(6) Mengharuskan segera adanya roadmap industri di Indonesia.

Dalam RPPP Aptisi ke-4 ini, turut hadir Menteri Tenaga Kerja (Menaker) RI Hanif Dakiri. Dalam paparannya, Hanif mengatakan bahwa pihaknya akan mendorong dan memastikan penggunaan standar kompetensi, agar mulai diberlakukan di bidang pendidikan tinggi. Upaya ini dilajukan agar ada kesinambungan antara kurikulum pendidikan tinggi dengan kebutuhan kompetensi tenaga kerja di pasar kerja.

"Oleh karena itulah, kita ingin mendorong agar perguruan tinggi benar-benar mau melakukan perubahan untuk banyak hal. Termasuk mungkin kita harus melihat penggunaan teknologi informasi untuk men-develop program-program pendidikan yang ada di perguruan tinggi," tutur Hanif. HUMAS JABAR, Sumber :Puspen Kemendagri

http://www.kemendagri.go.id/news/2018/02/09/perguruan-tinggi-di-jabar-harus-menghasilkan-sdm-berkualitas