Rabu, 21 November 2018 | 07:46 WIB

TAK DITERIMA PPDB DI SMA NEGERI 5 CIMAHI, ORANG TUA SISWA NGAMUK

foto

Administrator

HWH menunjukan piagam penghargaan yang diperoleh anaknya dalam mengikuti PPDB SMA melalui jalur prestasi di Kota Cimahi. (JabarEkspres.com)

SOREANGONLINE- Salah seorang orangtua siswa asal Cimahi melakukan pengrusakan fasilitas sekolah. Pasalnya, anaknya tidak lolos PPDB di SMA Negeri 5 Cimahi melalui jalur prestasi, Sabtu pekan lalu.

Sejumlah pot bunga sekolah di Jalan Pacinan, Kota Cimahi itu pecah berantakan. Bahkan, orangtua siswa yang diketahui berinisial HWH warga Pasir Kumeli, Baros, sempat memecahkan kaca meja tamu.

Kepala Sekolah SMA Negeri 5 Kota Cimahi, Ajat Sudrajat menceritakan, orangtua tersebut mendaftarkan anaknya melalui jalur prestasi sebagai atlet renang, namun tidak diterima karena penilaian dari tim penilai dan panitia PPDB.

“Memang kemarin anak Pak Hektor mendaftar kesini melalui jalur prestasi. Kami sebagai panitia juga melakukan penilaian, dan berdasarkan hasil penilaian, calon peserta didik yang bersangkutan tidak memenuhi kriteria,” ujar Ajat ketika ditemui di ruang kerjanya, kepada JabarEkspres.com, kemarin. (4/7).

Dia menjelaskan, faktor penentu anak bersangkutan tidak diterima adalah, pihak SMA Negeri 5 mendapat laporan bahwa, karakter dan sikap anak tersebut dinilai bisa membawa dampak buruk.

’’Ada laporan dari guru olahraga SMP N 9 Cimahi dan pelatih renang anak Pak Hektor, kalau dia itu di sekolahnya pernah merusak jok motor guru, menuliskan kata-kata tidak pantas saat kelulusan, jadi itu alasannya kami tidak bisa meluluskan dia,’’ ujarnya.

Berbeda dengan apa yang dikatatan Hektor. Dia  justru menuduh adanya kecurangan dalam penerimaan siswa baru di SMAN  5. Padahal prestasi anaknya sebagai perenang sudah beberapakali juara dan membawa nama Kota Cimahi.

Hektor menambahkan, ada tiga orang pendaftar, yang sama sekali tidak berprestasi justru diterima oleh SMA Negeri 5. Hektor mencurigai jika pelatih renang anaknya, mengakomodir pendaftaran ke sekolah tersebut secara kolektif.

“Saya kira karena anak saya ada masalah dengan pelatih renangnya, jadi dia dikorbankan dan tidak lolos pendaftaran. Padahal anak saya berprestasi, dan anak yang lain tidak, tapi justru anak saya yang tersingkir,” ungkap Hektor.